Kenapa Aku Susah Bahagia ?

#5thyoucat, #youcat, #youcatid, #katekismuspopuler, #omkindonesia, #berimanbukanrecehan, #katolik, 3JMJ, #bundamaria,
14 May 2021
Kenapa Aku Susah Bahagia ?

Apakah pernah merasa bahwa perasaan happy atau bahagia itu singkat dan hanya sesaat saja? Hari ini senang dapat HP baru yang canggih, eh minggu depan sudah bad mood lagi. Kebahagiaan karena mendapat motor baru bertahan paling lama sebulan, setelah itu balik sewot lagi. Selalu merasa ada yang kurang. Melihat singkatnya perasaan bahagia dalam diri kita, timbul pertanyaan: Mengapa manusia sulit bahagia? Apakah manusia bisa menjadi makhluk yang sungguh berbahagia dalam hidupnya yang fana di dunia?

Jawabannya… Bisa! Dan sesungguhnya tidaklah sulit untuk merasakan kebahagiaan. Kita dapat mengambil teladan dari Bunda Maria. Kehidupan Bunda Maria yang selalu bercampur antara kebahagiaan dengan kepedihan, namun ia tetap dapat bersukacita, membuktikan pada kita bahwa manusia bisa meraih kebahagiaan sejati di dunia ini terlepas dari pasang surutnya kemujuran, kefanaan dunia, dan keterbatasan manusiawi kita. Kuncinya ada pada Magnificat atau Kidung Maria, sebuah kidung yang dinyanyikan oleh Maria ketika ia mengunjungi Elizabet, sepupunya yang juga sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Dalam kidung inilah Maria menyerukan seluruh sukacitanya dengan segenap hati dan jiwanya.

__Magnificat/Kidung Maria__
Aku mengagungkan Tuhan
hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku.
Sebab Ia memperhatikan daku,
hamba-Nya yang hina ini.
Mulai sekarang aku disebut yang bahagia,
oleh sekalian bangsa.
Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa,
kuduslah nama-Nya.
Kasih sayang-Nya turun-temurun,
kepada orang yang takwa.
Perkasalah perbuatan tangan-Nya,
dicerai-beraikan-Nya orang yang angkuh hatinya.
Orang yang berkuasa diturunkan-Nya dari takhta,
yang hina dina diangkat-Nya.
Orang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan,
orang kaya diusir-Nya pergi dengan tangan kosong.
Menurut janji-Nya kepada leluhur kita,
Allah telah menolong Israel hamba-Nya.
Demi kasih sayang-Nya kepada Abraham serta keturunannya,
untuk selama-lamanya.

Kunci 1: Jangan menempatkan kebahagiaan kepada hal-hal duniawi! Kebahagiaan hanya ada pada Tuhan, sumber kebahagiaan sejati

Adakah satu saja hal duniawi yang disebutkan Maria dalam kidungnya? Tidak ada. Seluruh kidung ini mengisahkan bahwa Allahlah sumber sukacitanya. “Hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku,” - sumber sukacitanya adalah Yesus, Allah dan Juru Selamat kita. Inilah hakikat manusia: manusia hanya bisa menjadi makhluk yang berbahagia jika ia menempatkan sukacitanya pada Allah saja! Maka tidaklah mengherankan ketika orang-orang memilih untuk menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar kebahagiaan duniawi, akhirnya mengalami kekecewaan dan kehampaan batin. Sebab kenikmatan, kekayaan, popularitas, kecantikan adalah ukuran kebahagiaan yang keliru. [1]

Marilah berdoa, “Ya Yesus, aku ingin menjadi menjadi bahagia. Namun aku menyadari bahwa aku terus mengejar kefanaan dunia dengan harapan bahwa aku akan menjadi bahagia ketika mendapatkannya. Ternyata semuanya adalah kesia-siaan. Ya Yesus, Engkau adalah sumber sukacita Bunda-Mu Maria. Bantulah aku berlatih agar aku sungguh menjadikan-Mu sumber sukacitaku. Amin.”

Kunci 2: Hiduplah senantiasa dalam kesadaran bahwa engkau sangat dikasihi dan diperhatikan Tuhan

“Sebab Ia memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini… perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa, …” Karena kesempurnaan jiwanya yang tanpa cacat cela, jiwa Maria memiliki kemampuan untuk terus terhubung dengan Tuhannya. Ketika memasak, membersihkan rumah, berbincang dengan teman dan tetangga, hati Maria tidak pernah meninggalkan Tuhan. Dalam kesatuan itu, Maria semakin sadar betapa Tuhan mengasihi dan memperhatikan dia: Tuhan tidak menelantarkan umat-Nya, setiap saat Ia selalu menopang dan memelihara mereka, memampukan mereka bertindak, dan menggiring mereka menuju tujuan finalnya, yaitu Allah sendiri.[2] Inilah kebahagiaan sejati manusia: sadar bahwa ia punya Tuhan yang senantiasa mengasihi dan memperhatikannya.

Marilah berdoa, “Ya Yesus, aku ingin menjadi menjadi bahagia. Namun aku menyadari, betapa seringnya aku melupakan-Mu di tengah usahaku mencari kebahagiaan. Sebagai gantinya aku terus memikirkan hal-hal duniawi termasuk relasi-relasi manusia yang ternyata tidak mampu membahagiakan aku. Berikan rahmat-Mu, ya Tuhan, agar aku dapat semakin mengingat Engkau dalam hidupku dan aktivitasku sehari-hari. Amin.”

Kunci 3: Sadarilah ‘kemiskinan hatimu’, agar engkau semakin percaya dan berhadap pada janji-janji Tuhan

“Orang muda kadang-kadang juga mengalami kekosongan batin. Tetapi, mengalami kemiskinan semacam ini bukanlah hal yang buruk. Hanya dengan mencari dengan sungguh-sungguh seseorang mampu mengisi kekosongan batinnya. Itulah sebabnya Yesus bersabda, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya kerajaan Surga.”[3] Maria peka melihat keperkasaan Tuhan yang ia saksikan dalam hidupnya dan dalam sejarah bangsa Israel—bahwa Tuhan yang maha bijaksana meruntuhkan orang yang angkuh; tetapi orang yang hina-dina ditinggikan-Nya dan orang yang lapar-hati/miskin-hati dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. Hal ini menjadikan Maria semakin teguh beriman bahwa Tuhan menepati janji-janji-Nya, dan dalam keteguhan iman ini, Maria berharap. Dalam pengharapan ini, Maria bersukacita.

Jika kita peka hanya dalam mencari kisah cinta dalam sinetron dan drakor, kita menjadi semakin kurang beriman dan berharap pada Tuhan. Akibatnya, kekosongan batin kita tidak dapat terpenuhi.

Marilah berdoa, “Ya Yesus, aku ingin menjadi menjadi bahagia. Maka bantulah aku menyelami kemiskinan batinku dan mengarahkan kepekaanku hanya kepada-Mu. Ya Allah Roh Kudus, Engkau menjanjikan kebahagiaan sebagai buah yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang senantiasa hidup di dalam Engkau.[4] Bantulah aku, agar seperti Maria, akupun dapat suatu saat menjadi makhluk yang sungguh berbahagia. Amin.”

(Oleh : Christine S)

Sumber :

[1] Bdk., Katekismus Gereja Katolik, no. 1723, (versi bhs Inggris)

[2] Bdk., Katekismus Gereja Katolik, no. 301, (versi bhs Inggris)

[3] Bdk., Youcat, no. 467 (versi bhs Indonesia)

[4] Bdk., Katekismus Gereja Katolik, no. 1832, (versi bhs. Inggris)

Sumber Gambar : www.katedraldenpasar.com/